FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN SEKS PADA REMAJA AWAL USIA 10-13 TAHUN

Novita Lusiana

Sari


Pendidikan seks sangat penting diberikan kepada anak ketika berusia 2-3 tahun. Di negara berkembang seperti Amerika Serikat sekitar 47% pendidikan seks telah terealisasikan, dimana program pemerintah memberikan buku panduan pendidikan seks kepada setiap orang tua yang memiliki anak. Adapun pendidikan seks yang diberikan adalah pendidikan seks dasar berupa belajar sopan santun, dari mana datangnya bayi, mengenali jenis kelamin dan lain sebagainya. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan di SMP N 17 Pekanbaru oleh peneliti, dan peneliti mendapatkan informasi dari guru BK (Bagian Kesiswaan) dan wakil kepalasekolah, bahwa siswa-siswi SMP N 17 tidak pernah sama sekali mendapatkan informasi atau penyuluhan dari tenaga kesehatan mengenai pendidikan seks pada remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan seks pada remaja usia 10-13 tahun di SMP N 17 Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan secara cross sectional. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah orang tua siswa kelas VII dan VIII sebanyak 571 orang, dan sampel berjumlah 111 orang dengan pengambilan sampel secara acak sistematik. berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil secara univariat diketahui bahwa pengetahuan remponden mayoritas baik sebanyak 75 orang (67,6%), pendidikan tinggi sebanyak 77 orang (64,4%), tidak bekerja sebanyak 98 orang (80,2%), pendapatan tinggi sebanyak 68 orang (61,3%) dan pendidikan seks baik sebanyak 73 orang (65,8%). Berdasarkan uji statistik diperoleh P value semua variabel < ɑ (0,05), berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan orang tua, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan orang tua dengan pendidikan seks pada remaja. Berdasarkan uji statistik diperoleh nilai OR yang paling tinggi diantara variabel yang lain adalah variabel status pekerjaan orang tua dengan nilai OR (95% CI) = 6,79 (1,495-30,869), artinya responden dengan orang tua yang tidak bekerja memiliki peluang 7 kali untuk tidak memberikan pendidikan seks pada remajanya dibandingkan dengan responden yang orang tuanya bekerja.

Teks Lengkap:

Hal 204-209

Referensi


Andriana, D. (2011). Pendidikan Seks Dalam Kesehatan. Jakarta : Nuha Medika

Rahmadani. (2010). Pendidikan Seks Remaja. Jakarta : Elex Media

Riwidikdo, H. (2008). Statistik kesehatan. Jakarta: Bumi Perkasa.

Soetjiningsih, (2009). Tumbuh Kembang Remaja Dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seto

Setiawan, A. & Saryono. (2010). Metodelogi Penelitian Kebidanan DIII, DIV, S1 dan S2. Yogyakarta : Mulia Medika

Dewi Fiska Simbolon, Kurangnya Pendidikan Reproduksi Dini Menjadi Faktor Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual Antar Anak, Soumatera Law Review, Volume 1, Nomor 1, 2018.

Sarwono, S. (2012). Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press

Surbakti, E.B. (2009). Kenali Anak Remaja Anda. Jakarta : Elex Media Kompetindo

Wawan, A. & Dewi, M. (2010). Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Manusia. Jakarta : Nuha Medika

Laurensius Arliman S, Perlindungan Hak Anak Di Dalam Memperoleh Pelayanan Kesehatan Di Indonesia,Lex Jurnalica 15 (1), 2018, 29-39.




DOI: https://doi.org/10.33559/eoj.v2i1.366

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Jumlah Kunjungan

Negara Pengunjung

Flag Counter

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.