ANALISIS KLORIN PADA BIHUN YANG DIJUAL DI PASAR KODIM PEKANBARU

Mega Elfia

Sari


Bihun merupakan makanan berbahan baku beras yang sering kali dijadikan sebagai pengganti mie dan pendamping kuah bakso dan berbagai macam olahan masakan lainnya. Bihun dapat bermanfaat apabila pembuatannya sesuai dengan standar dan tidak ditambahkan bahan kimia berbahaya. Bahan kimia berbahaya salah satunya klorin. Bahan kimia pemutih pakaian(klorin) terkadang disalahgunakan oleh produsen untuk mendapatkan hasil lebih menarik sehingga nilai jualnya lebih tinggi. Dampak buruk penggunaan klorin bagi kesehatan tubuh manusia yaitu menimbulkan kanker darah, merusak sel-sel darah, menganggu fungsi hati atau lever, dapat merusak sistem pernapasan dan selaput lendir dalam tubuh beserta batuk-batuk hingga menyebabkan kematian. Penelitian ini dilakukan secara acak dari keseluruhan jumlah sampel bihun tertentu dengan ciri-ciri berwarna lebih putih. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan ada atau tidaknya klorin pada bihun yang dijual di Pasar Kodim Pekanbaru. Dari hasil penelitian yang dilakukan secara kualitatif menggunakan reaksi reagen KI 10% dan Amilum 1% tidak terbentuk warna biru dan dengan reaksi DpD Total Klorin tidak terbentuk warna merah jambu. Hal tersebut menunjukkan hasil penelitian dari lima sampel bihun yang diambil di Pasar Kodim Pekanbaru menunjukkan hasil negatif tidak mengandung klorin.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Adiwisastra, A. 1989. Sumber Bahaya Serta Penanggulangan Keracunan. Penerbit Angkasa. Bandung.

Astawan, Made. 2008. Membuat Mi dan Bihun. Penebar Swadaya. Jakarta

Darniadi, S. 2010. Identifikasi Bahan Tambahan Pangan (BTP) Pemutih Klorin Pada Beras. Jurnal. Hal 1311-1317.Balai Besar Pascapanen Pertanian. Bogor.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen. 2008. Sosialisasi Larangan Penggunaan Bahan Pemutih (Klorin) Dalam Beras. (Online), (http://www.sragen.go.id Diakses 20 Januari 2015).

Elfiadi. 2008. Pengujian Klorin. PT Amia Batu Sangkar.

Kemal, T. Bihun. (Online), (http://www.ristek.go.id Diakses 20 Januari 2015)

Laksmi, S.B 2001. Potensi dan Prospek Bioteknologi dalam Rangka Penyediaan Pangan Menyehatkan. Fakultas Teknologi Pertanian, Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.

Lista, S.R.V., 2014. Identifikasi Kaporit pada Beberapa Sampel Beras yang Dijual di Pasar Kodim Pekanbaru. Akademi Analis Fajar. Pekanbaru.

Luthana, Y.K. 2008. Klorin atau Ca(OCL)2. (Online), (http://yongkikastanyaluthana.wordpress.comdiakses 26 Februari 2009).

Munarso, S., Haryanto, B. 2000. Perkembangan Teknologi Pengolahan Mie, (Online), (https://setyo14edu.wordpress.com/perkembangan-teknologi-pengolahan-mie/ diakses 24 Desember 2014).

Parnomo, A. 2003. Pembuatan Cairan Pemutih. Penerbit Puspa Swara. Jakarta.

Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/XI/1988. Tentang Bahan Tambahan Makanan. Jakarta.

Sartono, 2001. Racun dan Keracunan. Widya Medika. Jakarta.

Sinuhaji, D. 2009. Perbedaan Kandungan Klorin (Cl2) Pada Beras Sebelum dan Sesudah Dimasak Tahun 2009. Skripsi tidak diterbitkan. Program Pasca Sarjana FKM USU.




DOI: https://doi.org/10.33559/eoj.v2i4.491

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Jumlah Kunjungan

Negara Pengunjung

Flag Counter

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.