KEDUDUKAN HARATO PUSAKO TINGGI SETELAH PUNAHNYA SUATU KAUM (KAJIAN PADA SUKU KUTIANYIR DATUAK MAJO ITAM KENAGARIAN TUJUAH KOTO TALAGO KECAMATAN GUGUAK KABUPATEN LIMA PULUH KOTA)

Robby Yunianto Utama MS

Sari


This research is backgrounded by the phenomenon of clan extinction at the paruik (matrilineal branch) level in the Minangkabau matrilineal kinship system, which often triggers disputes and deviations in the transfer of harato pusako tinggi (high ancestral property) rights. This study aims to determine the legal status of harato pusako tinggi after a clan's extinction and to identify the rightful heirs. This study employs a juridical-sociological approach with a descriptive qualitative method. Data were collected through in-depth interviews with customary leaders, members of the Village Customary Council (KAN), and related parties in Nagari Tujuah Koto Talago, along with library research. The results indicate that: (1) The status of harato pusako tinggi in the Kutianyir Datuak Majo Itam tribe remains as collective property of the clan and does not downgrade to pusako randah (low ancestral property) or personal property, even when its management is transferred to other branches through the ganggam bauntuak system, in accordance with the customary principle of kabau tagak kubangan tingga. (2) The right to inherit and manage the property belongs to the barih or bloodline heirs (warih nasab) who have the closest kinship within the same tribe (sajari, sajongka, saheto, sadapo), while non-bloodline heirs (warih badan) have no rights unless based on a strong customary consensus. This study concludes that local customary law successfully maintains the existence of high ancestral property against deviant property transfers.

Keywords: Harato Pusako Tinggi, Clan Extinction, and Minangkabau Customary Law


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


A.Buku-buku

A.A,Navis,1984, Alam Terkembang Jadi Guru, Grafitipers, Jakarta

Amir M.S, 2001, Pewarisan Harato pusako Tinggi dan Pencaharian, Citra Harta Prima,Jakarta

Amir M.S, 2006, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, (cetakan ke V), Mutiara Sumber Widya, Jakarta

Bambang Sunggono,1996, Penelitian Hukum, PT.Raja Grafindo, Jakarta

Datoek Toeah,1985, Tambo Alam Minanngkabau (cetakan XIII), Pustaka Indonesia Bukittinggi, Bukittinggi

Edison MS dan Nasrun, 2010, Tambo Minangkabau: Budaya dan Hukum Adat di Minangkabau, Kristal Multimedia, Bukittinggi

Erman Mawardi, 2011, Profil Tujuah Koto Talago, Alfabeta, Bandung

Erwin, 2006, Tanah Komunal: Memudarnya solidaritas Sosial Pada Masyarakat Minangkabau, Andalas University Perss, Padang

Firman Hasan,1988, Dinamika Masyarakat dan Adat Minangkabau, Pusat Penelitian Universitas Andalas, Padang.

Hermayulis, 1999, Penerapan Hokum Pertanahann Dan Pengaruhnya Terhadap Hubungan Kekerabatan Pada Sistem Kekerabatan Matrilineal Minangkabau Di Sumatera Barat (Disertasi Doctor), Universitas Indonesia, Jakarta

Ibrahim Dt.Sanggoeno Dirajo, 2009, Tambo Alam Minangkabau: Tatanan Warisan Nenek Moyang Orang Minang, Kristal Multimedia, Bukittinggi.

Kurniawarman, 2006, Ganggam Bauntuk Menjadi Hak Milik (Penyimpangan Konversi Hak Atas Tanah di Sumatera Barat), Andalas University Perss,Padang

Latief, 2002, Etnis Dan Adat Minangkabau: Permasalahan dan Masa Depanya, Angkasa, Bandung

Moh.Nasir,1999, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta

Ronidin, 2006, Minangkabau Di Mata Anak Muda, Andalas University Press, Padang

Yaswirman,1997, Hukum Kekeluargaan Adat Dan Hukum Kekeluargaan Islam Di Indonesia (Disertasi Doktor dalam bidang Ilmu Agama Islam), Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

B.Peraturan Perundang- undangan

Undang-undang No.5 Tahun 1060 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok

Agraria




DOI: https://doi.org/10.33559/err.v5i11.4056

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Anda Pengunjung ke-

Flag Counter